Pages

Saturday, June 30, 2012

offline

lila melempar tasnya begitu saja. lelah bergelayut dipundaknya.
hari yang berat. segelas air sedikit melegakan tenggorokannya.

bib.. laptop menyala.

kemana kau, bim?

akun itu menunjukkan status offline.
tak masalah, bukankah seseorang masih bisa mengirim pesan sekalipun tidak sedang online?

apa kabar, bim?
kenapa tak kau balas pesanku kemarin? minggu lalu?
kau sibuk?
belakangan aku juga sangat sibuk
entah kenapa semua pekerjaan ini hampir membuatku gila

masih ingat mita?
ya, yang selalu kau bilang parasit itu
hari ini ia kembali berulah
geez, how can she be so stupid?
tak pernah mau aku memaafkannya


lila menoleh. ketukan pintu menghentikan jemarinya.

talk to you later, bim
ada tamu.. bye now..

"lila, tadi seseorang mencarimu," bu Wanti pemilik kos tersenyum ramah.
"oya, siapa, bu?"
"ibu juga nggak tau, nggak pernah ke sini rasanya. namanya wisnu. bukan temankah?"
lila menggeleng. "ada pesan, bu?"
"tidak. hanya saja orang itu benar-benar ingin bertemu secara pribadi denganmu. ini nomor handphonenya. dia bilang hubungi kapan saja kau bisa."
lila menerima lembar kertas itu. bukan nomor yang familiar di ingatannya.
"orang itu bilang, kau harus segera menghubunginya. penting. begitu katanya."
lila mengangguk. "terimakasih, bu." dan menutup pintu.

siapa?

lila meletakkan kertas itu diatas meja. satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah berendam dalam genangan air hangat. untuk meredakan gejolak dalam dadanya. meredakan sedikit kegalauan dalam hatinya.

***

jam 11 malam. mata lila tak juga dapat terpejam.
indikator baterai laptopnya sudah mati.
bima..

tanda kekuningan messengernya menyala!
ya tuhan, bima..

belum tidur, bim?

sedetik.. dua detik.. lima detik..
bima tak juga menjawab

bim?
ingin ditekannya tombol buzz. tapi diurungkannya.
jam sebelas malam, bukan langkah bijak bila harus mengejutkan orang.

kemana kau, bim?
belum lagi selesai berpikir, akun bima mendadak offline.
lila tercekat. tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya.

bima?
matanya mulai berkaca. sebentar kemudian benar-benar tumpah airmatanya.
kenangan bertahun lalu muncul kembali di benaknya.

belum pernah sekalipun lila mencintai seseorang sedemikian besarnya.
cinta yang salah.
mencintai orang yang salah.
bima tak pernah tercipta untuknya.

tak penting lagi bagiku mencintai siapa. 
ini masa depanku, lil. ini penting bagiku.
jangan berharap lebih dariku. 
aku tak yakin bisa membahagiakanmu. 
paling tidak kita tetap bisa berteman, bukan?

lila terisak.
kau tak tau betapa hancurnya perasaanku, bim.
berteman? tentu saja kita bisa selalu berteman.
apa saja bisa asalkan membuatmu bahagia.
kebahagiaanku tak penting. asal melihatmu tertawa itu sudah sangat membuatku lega.

***

"kau lila?" seseorang tiba-tiba datang mendekatinya.
lila tertegun melihat sosok di depannya.
"anda siapa?"
"maaf, perkenalkan, saya wisnu."
"saya tidak mengenal anda, maaf." hanya itu. lila beranjak pergi.
"lila, ada yang harus aku sampaikan. ini tentang bima."
langkah lila terhenti. bagaimana mungkin seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba muncul didepannya dan menyebut nama bima.

"bisa kita duduk di sana."
lila menurut. ada sebuah bangku kosong di bawah pohon rindang sana. taman ini bila menjelang senja rasanya seperti sebuah surga kecil.  suasananya tenang. bila sedang kesal, lila suka berdiam diri di bangku itu.

"katakan." lila tak sabar. mengapa ia harus mendengar seseorang yang bahkan tak dikenalnya?
lelaki itu mencoba tersenyum. ada kepedihan di matanya.

"aku dan bima satu kantor, kami juga berbagi apartemen bersama."

apa perlunya cerita ini untukku?

"kami bersahabat dekat. segala sesuatu tentang bima, aku tau semuanya."
"lalu apa hubungannya denganku? jangan berbelit-belit. aku tak punya banyak waktu." lila mendengus kesal.

"bima mencintaimu."
lila terperangah menatapnya.

"akhir-akhir ini bima berkata bahwa ia sangat mencintaimu. tak pernah ditemukannya seorang yang begitu perhatian sepertimu."
"hentikan. omongan sampah apa ini?" mata lila hampir saja basah oleh airmata.
bagaimana mungkin seseorang bisa berkata bahwa bima sedemikian mencintainya? lila bangkit berdiri.

"tunggu. lila. sebentar. aku hanya ingin menyampaikan ini." lelaki itu mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari sakunya.
"bima membeli ini seminggu sebelum ia meninggal. didalamnya sebuah cincin bertuliskan nama kalian. rencananya minggu ini ia akan melamar."
"messenger yang kau lihat online itu, aku yang menyalakannya."

pandangan mata lila mulai samar.
dan semuanya menjadi tidak penting lagi sekarang.



Sunday, June 17, 2012

life isn't that hard

life isn't that hard, leilla
have a courage to face it

yes you can, dear

Friday, June 15, 2012

so, help me lord

ketika tuhan tidak menghindarkan kita dari masalah
ia memberi kita hikmat untuk menghadapinya
amen

Thursday, June 14, 2012

his will be done

tuhan,
bila ini adalah kehendakmu
lakukan

bila ini yang engkau mau
apapun boleh untukmu

hatiku?
tak perlu risaukan
aku selalu kuat
akan selalu kuat
kau ingat itu
*tears*


leilla write:
mengapa menerima jawaban 'tidak" itu begitu menyakitkan?
berdiri tegak, leilla, you can do it..
(yes you can, dear)
it's only about a time

Monday, June 11, 2012

surat kepada tuhan

tuhan,
ketika kau menunjukkan amarahmu
dan aku diam saja
kau tahu akan seperti apa pada akhirnya, bukan

menurut
tidak membantah
meski sakit
selalu kembali padamu

satu kali
dua kali
hingga hari ini
mengapa tak juga padam amarahmu?

bila aku diam
bila aku menangis
jauh di dalam hati
bila aku tak sanggup berkata apapun
itu bukan berarti kau boleh menyakiti aku kapan saja kau mau!!

Monday, June 4, 2012

apakah 'dia' bodoh?

'Tuhan, mengapa dia melakukan kesalahan lebih banyak dari orang lain? apakah dia bodoh? ' tanya seorang malaikat sambil menunjukkan sebuah foto.

ya Tuhan, ITU FOTOKU!!

moral :
God is always willing to forgive, dear
hanya saja, jangan lakukan kesalahan yang sama terus menerus
*itu sangat menyakitkan*



Sunday, June 3, 2012

ai

'jangan tertidur, din, buka matamu'
aku tersenyum. kasihan sam, sudah seharian ia tak beranjak dari tempatnya.
dari sisiku.
'aku letih, sam.'
'kau tidak boleh tertidur. buka matamu. ada aku di sini.' mata sam mulai sayu.
aku tau dia juga sama letihnya denganku.
'kau belum dengar cerita soal hamster andien kan? belum genap seminggu sudah ada anak hamster lagi di kandangnya. warnanya co...'

yayaa, aku sudah dengar cerita itu ratusan kali.
ibu dan andien yang memberitahuku.  
aku letih, sam. rasanya tak sanggup lagi. biarkan aku tertidur sejenak.

'lihat, ini foto hamster andien. coklat putih warnanya. kau bisa lihat itu kan?' sam menunjukkan kamera sakunya. hamster andien memang sangat lucu dan menggemaskan. sam terkekeh melihatnya.

'kau tahu..'
tak ada respon. dinda menutup mata.
'dinda.'
'jangan bercanda, buka matamu!'
'dinda!' suara sam terdengar panik.
'demi Tuhan, din, bangun!'
'suster!!'


epilog

sam terpekur di depan tanah makam dinda.
teman, sahabat, istri, yang benar-benar dicintainya.
entah apa jadinya hidup ini bila tidak ada dinda. belahan jiwanya. 
tak ada gunanya lagi.

'hujan, sam, ayo pulang.' ibu menggamit lengannya.
'ibu pulang duluan, aku sebentar menyusul.'
rombongan keluarga bergegas pergi.
hanya marwan, supir ayah, yang masih setia menemani.


tinggal kau dan aku, din.
sam berurai air mata. tak pernah disangkanya bahwa dinda akan pergi meninggalkannya secepat ini.
ia sangat kecewa. pada Tuhan, dinda, bahkan pada dirinya sendiri.
tunggu aku, din. kau tidak boleh berada di sana sendiri.

berat hati sam melangkah pergi. rasa sesak di dadanya membuatnya ingin berteriak.
menangis sekeras-kerasnya dan bertanya,  
mengapa Tuhan, mengapa Kau ambil dia dariku? salah apakah aku padaMu? 

gerimis sudah berganti menjadi hujan.
di luar tanah pemakaman jalanan masih tetap sibuk.
sam terus berjalan.
semakin lama semakin cepat.
semakin cepat ia berlari melewati marwan dan kerumunan banyak orang.
itu, dinda!

'mas sam, awaaasss!!'
dari arah utara melaju sebuah sedan merah.
terlambat.

marwan tertegun melihat sang tuan terjatuh bermandikan darah.
sam tergeletak tak bergerak.
tak ada rasa sakit tergambar di wajahnya.
marwan heran, di wajah sam terukir senyum bahagia.

tunggu aku, din. jangan kemana-mana. kau tak boleh sendirian di sana!