Pages

Saturday, July 7, 2012

destiny

'bahagia itu bukan hanya milik sebagian orang, rein. kau pun layak untuk bahagia.'
reina masih saja gundah. perkataan lisa sama sekali tak didengarkannya.
'aku pulang.'
'langsung pulang, jangan kemana-mana. pikiranmu kacau. jangan sampai kau bertindak bodoh.'
'huh.' reina mendengus. lisa selalu menjadi seorang yang sangat penting dalam hidupnya. sebagai teman, saudara, bahkan ibunya.

langit semakin kelam. cuaca kota melbourne semakin tak bersahabat belakangan ini. reina merapatkan coatnya. sial, pikiran tentang nirwan sama sekali tak bisa hilang dari kepalanya. nirwan brengsek. laki-laki pengecut. bagaimana mungkin ia muncul di tengah situasi seperti ini. 

pletak. kerikil kecil menjadi sasaran kakinya. i need a couple of coffee. reina menyeberang jalan. ada coffe house di sudut fear-street sana.

secangkir kopi dan sepiring cocholate fudge, perfect. 
the day i falling love, my gosh, kenapa harus lagu itu yang didengarnya saat ini. 

'reina.'
nirwan! bagus. nor music and him, dua-duanya sangat menyebalkan untuk dihadapi sekarang.
'aku mencarimu seharian. got my message?' lelaki itu menyeret kursi di depannya. 
sungguh seorang yang tak berperasaan.
reina menggeleng. 'aku di rumah lisa sejak tadi.'
'minggu depan anniversary mas daniel, kau diundang. kita bisa datang bersama kalau kau mau.'
nirwaaaaannn, hentikaaannn!! ingin rasanya reina melempar sendok kopinya ke arah nirwan. 
why don't you just leave me alone..
'aku repot. ajak lisa saja.'

nirwan tak menjawab. jemarinya memanggil waiter untuk memesan menu yang sama. 
geezz, kesukaan kami selalu sama.selalu.
'paper? nanti aku bantu. aku lowong minggu ini.'
'nanti kupikirkan. aku pulang.'
'rein..' nirwan menggenggam telapak tangannya. 'jangan menghindariku terus.' 
demi tuhan reina tak sanggup mendengar nada bicara nirwan yang memelas seperti itu. 
selalu runtuh. pertahanannya. selalu runtuh. 
mengapa waktu tak juga dapat menghapus kebencian dalam hatinya? 

'lepaskan.'
'nggak. duduk. dengarkan dulu.' reina memandang lekat matanya. nirwan tak tersenyum. matanya menahan kepedihan. kepedihan yang sama dengannya.
'please..' 
reina menunduk. kembali terduduk. melepaskan genggaman hangat tangan nirwan yang masih ingin dirasakannya lebih lama.
'maafkan aku, rein. aku salah. kalau saja ada satu hal yang bisa menghapus semua kesalahanku di masa lalu. aku mencintaimu, rein. selalu mencintaimu.'
reina mendengus. membuang wajahnya. airmata mulai membayang di pelupuk matanya. jangan menangis sekarang, tuhan. 

'perkawinanku, tentu saja kami bahagia. setidaknya aku mencoba untuk bahagia. aku tak ingin menyakiti perasaan inggar.'

lalu bagaimana dengan perasaanku? boleh kau sakiti aku kapan saja kau mau? begitu?

'justru karena kami sama-sama mencoba untuk bahagia, tak juga kami dapatkan kenyataannya. inggar meninggalkanku, rein. dan aku tak berusaha keras untuk membuat kami bersatu kembali. kau tau kenapa? karena aku mencintaimu. anggap saja itu kebodohan terbesarku. tapi sungguh aku tak bisa sedetikpun melupakanmu.'
kali ini mata reina benar-benar basah oleh airmata. ia menggeleng.
'bukan aku. kau hanya mencintai dirimu sendiri.' 

reina segera berdiri dan beranjak pergi.
mengapa langit tega mempertemukan kami kembali? tentu saja aku mencintaimu, demi tuhan aku masih mencintaimu.

nirwan terpekur.
reina, cinta yang tak pernah bisa direngkuhnya.
tunggu aku, rein, suatu hari nanti kita pasti akan bahagia.



Saturday, June 30, 2012

offline

lila melempar tasnya begitu saja. lelah bergelayut dipundaknya.
hari yang berat. segelas air sedikit melegakan tenggorokannya.

bib.. laptop menyala.

kemana kau, bim?

akun itu menunjukkan status offline.
tak masalah, bukankah seseorang masih bisa mengirim pesan sekalipun tidak sedang online?

apa kabar, bim?
kenapa tak kau balas pesanku kemarin? minggu lalu?
kau sibuk?
belakangan aku juga sangat sibuk
entah kenapa semua pekerjaan ini hampir membuatku gila

masih ingat mita?
ya, yang selalu kau bilang parasit itu
hari ini ia kembali berulah
geez, how can she be so stupid?
tak pernah mau aku memaafkannya


lila menoleh. ketukan pintu menghentikan jemarinya.

talk to you later, bim
ada tamu.. bye now..

"lila, tadi seseorang mencarimu," bu Wanti pemilik kos tersenyum ramah.
"oya, siapa, bu?"
"ibu juga nggak tau, nggak pernah ke sini rasanya. namanya wisnu. bukan temankah?"
lila menggeleng. "ada pesan, bu?"
"tidak. hanya saja orang itu benar-benar ingin bertemu secara pribadi denganmu. ini nomor handphonenya. dia bilang hubungi kapan saja kau bisa."
lila menerima lembar kertas itu. bukan nomor yang familiar di ingatannya.
"orang itu bilang, kau harus segera menghubunginya. penting. begitu katanya."
lila mengangguk. "terimakasih, bu." dan menutup pintu.

siapa?

lila meletakkan kertas itu diatas meja. satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah berendam dalam genangan air hangat. untuk meredakan gejolak dalam dadanya. meredakan sedikit kegalauan dalam hatinya.

***

jam 11 malam. mata lila tak juga dapat terpejam.
indikator baterai laptopnya sudah mati.
bima..

tanda kekuningan messengernya menyala!
ya tuhan, bima..

belum tidur, bim?

sedetik.. dua detik.. lima detik..
bima tak juga menjawab

bim?
ingin ditekannya tombol buzz. tapi diurungkannya.
jam sebelas malam, bukan langkah bijak bila harus mengejutkan orang.

kemana kau, bim?
belum lagi selesai berpikir, akun bima mendadak offline.
lila tercekat. tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya.

bima?
matanya mulai berkaca. sebentar kemudian benar-benar tumpah airmatanya.
kenangan bertahun lalu muncul kembali di benaknya.

belum pernah sekalipun lila mencintai seseorang sedemikian besarnya.
cinta yang salah.
mencintai orang yang salah.
bima tak pernah tercipta untuknya.

tak penting lagi bagiku mencintai siapa. 
ini masa depanku, lil. ini penting bagiku.
jangan berharap lebih dariku. 
aku tak yakin bisa membahagiakanmu. 
paling tidak kita tetap bisa berteman, bukan?

lila terisak.
kau tak tau betapa hancurnya perasaanku, bim.
berteman? tentu saja kita bisa selalu berteman.
apa saja bisa asalkan membuatmu bahagia.
kebahagiaanku tak penting. asal melihatmu tertawa itu sudah sangat membuatku lega.

***

"kau lila?" seseorang tiba-tiba datang mendekatinya.
lila tertegun melihat sosok di depannya.
"anda siapa?"
"maaf, perkenalkan, saya wisnu."
"saya tidak mengenal anda, maaf." hanya itu. lila beranjak pergi.
"lila, ada yang harus aku sampaikan. ini tentang bima."
langkah lila terhenti. bagaimana mungkin seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba muncul didepannya dan menyebut nama bima.

"bisa kita duduk di sana."
lila menurut. ada sebuah bangku kosong di bawah pohon rindang sana. taman ini bila menjelang senja rasanya seperti sebuah surga kecil.  suasananya tenang. bila sedang kesal, lila suka berdiam diri di bangku itu.

"katakan." lila tak sabar. mengapa ia harus mendengar seseorang yang bahkan tak dikenalnya?
lelaki itu mencoba tersenyum. ada kepedihan di matanya.

"aku dan bima satu kantor, kami juga berbagi apartemen bersama."

apa perlunya cerita ini untukku?

"kami bersahabat dekat. segala sesuatu tentang bima, aku tau semuanya."
"lalu apa hubungannya denganku? jangan berbelit-belit. aku tak punya banyak waktu." lila mendengus kesal.

"bima mencintaimu."
lila terperangah menatapnya.

"akhir-akhir ini bima berkata bahwa ia sangat mencintaimu. tak pernah ditemukannya seorang yang begitu perhatian sepertimu."
"hentikan. omongan sampah apa ini?" mata lila hampir saja basah oleh airmata.
bagaimana mungkin seseorang bisa berkata bahwa bima sedemikian mencintainya? lila bangkit berdiri.

"tunggu. lila. sebentar. aku hanya ingin menyampaikan ini." lelaki itu mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari sakunya.
"bima membeli ini seminggu sebelum ia meninggal. didalamnya sebuah cincin bertuliskan nama kalian. rencananya minggu ini ia akan melamar."
"messenger yang kau lihat online itu, aku yang menyalakannya."

pandangan mata lila mulai samar.
dan semuanya menjadi tidak penting lagi sekarang.



Sunday, June 17, 2012

life isn't that hard

life isn't that hard, leilla
have a courage to face it

yes you can, dear

Friday, June 15, 2012

so, help me lord

ketika tuhan tidak menghindarkan kita dari masalah
ia memberi kita hikmat untuk menghadapinya
amen

Thursday, June 14, 2012

his will be done

tuhan,
bila ini adalah kehendakmu
lakukan

bila ini yang engkau mau
apapun boleh untukmu

hatiku?
tak perlu risaukan
aku selalu kuat
akan selalu kuat
kau ingat itu
*tears*


leilla write:
mengapa menerima jawaban 'tidak" itu begitu menyakitkan?
berdiri tegak, leilla, you can do it..
(yes you can, dear)
it's only about a time

Monday, June 11, 2012

surat kepada tuhan

tuhan,
ketika kau menunjukkan amarahmu
dan aku diam saja
kau tahu akan seperti apa pada akhirnya, bukan

menurut
tidak membantah
meski sakit
selalu kembali padamu

satu kali
dua kali
hingga hari ini
mengapa tak juga padam amarahmu?

bila aku diam
bila aku menangis
jauh di dalam hati
bila aku tak sanggup berkata apapun
itu bukan berarti kau boleh menyakiti aku kapan saja kau mau!!

Monday, June 4, 2012

apakah 'dia' bodoh?

'Tuhan, mengapa dia melakukan kesalahan lebih banyak dari orang lain? apakah dia bodoh? ' tanya seorang malaikat sambil menunjukkan sebuah foto.

ya Tuhan, ITU FOTOKU!!

moral :
God is always willing to forgive, dear
hanya saja, jangan lakukan kesalahan yang sama terus menerus
*itu sangat menyakitkan*



Sunday, June 3, 2012

ai

'jangan tertidur, din, buka matamu'
aku tersenyum. kasihan sam, sudah seharian ia tak beranjak dari tempatnya.
dari sisiku.
'aku letih, sam.'
'kau tidak boleh tertidur. buka matamu. ada aku di sini.' mata sam mulai sayu.
aku tau dia juga sama letihnya denganku.
'kau belum dengar cerita soal hamster andien kan? belum genap seminggu sudah ada anak hamster lagi di kandangnya. warnanya co...'

yayaa, aku sudah dengar cerita itu ratusan kali.
ibu dan andien yang memberitahuku.  
aku letih, sam. rasanya tak sanggup lagi. biarkan aku tertidur sejenak.

'lihat, ini foto hamster andien. coklat putih warnanya. kau bisa lihat itu kan?' sam menunjukkan kamera sakunya. hamster andien memang sangat lucu dan menggemaskan. sam terkekeh melihatnya.

'kau tahu..'
tak ada respon. dinda menutup mata.
'dinda.'
'jangan bercanda, buka matamu!'
'dinda!' suara sam terdengar panik.
'demi Tuhan, din, bangun!'
'suster!!'


epilog

sam terpekur di depan tanah makam dinda.
teman, sahabat, istri, yang benar-benar dicintainya.
entah apa jadinya hidup ini bila tidak ada dinda. belahan jiwanya. 
tak ada gunanya lagi.

'hujan, sam, ayo pulang.' ibu menggamit lengannya.
'ibu pulang duluan, aku sebentar menyusul.'
rombongan keluarga bergegas pergi.
hanya marwan, supir ayah, yang masih setia menemani.


tinggal kau dan aku, din.
sam berurai air mata. tak pernah disangkanya bahwa dinda akan pergi meninggalkannya secepat ini.
ia sangat kecewa. pada Tuhan, dinda, bahkan pada dirinya sendiri.
tunggu aku, din. kau tidak boleh berada di sana sendiri.

berat hati sam melangkah pergi. rasa sesak di dadanya membuatnya ingin berteriak.
menangis sekeras-kerasnya dan bertanya,  
mengapa Tuhan, mengapa Kau ambil dia dariku? salah apakah aku padaMu? 

gerimis sudah berganti menjadi hujan.
di luar tanah pemakaman jalanan masih tetap sibuk.
sam terus berjalan.
semakin lama semakin cepat.
semakin cepat ia berlari melewati marwan dan kerumunan banyak orang.
itu, dinda!

'mas sam, awaaasss!!'
dari arah utara melaju sebuah sedan merah.
terlambat.

marwan tertegun melihat sang tuan terjatuh bermandikan darah.
sam tergeletak tak bergerak.
tak ada rasa sakit tergambar di wajahnya.
marwan heran, di wajah sam terukir senyum bahagia.

tunggu aku, din. jangan kemana-mana. kau tak boleh sendirian di sana!



Friday, April 13, 2012

teman (??)

jam 7 malam..

berlembar kertas berserakan di atas meja.
lem, gunting, spidol, pensil, tissue, semuanya.
semua pekerjaan ini benar-benar membuatku gila.

satu hal belum selesai, datang lagi yang satunya.

"belum pulang, nis?"
"belum, pak, masih nanggung"
"lanjut besok saja, toh masih ada hari esok"
aku tersenyum. setengah menahan airmata agar tidak tumpah.
capek bukan main aku, pak. tapi kata-kata itu tak bisa keluar.

pak hamid tersenyum meninggalkanku sendirian.

menjelang malam dengan pekerjaan yang belum juga dapat diselesaikan sungguh membuatku sangat letih.
jasmani dan rohani.

"jangan matikan lampunya, pak" teriakku.
pak min mulai mengecek pintu. satu hal wajib yang harus dilakukan bila semua karyawan telah pulang.

baiklah, tinggal aku seorang diri.
sepi. hanya terdengar suara printer.
seandainya saja ada teman disini..

hampir sepuluh jam bekerja di depan komputer membuat mata terasa lelah.
memejamkannya sejenak rasanya seperti di surga.

entah sejak kapan, tiba-tiba aku merasa sepi ini begitu menggigit.
sunyi. tak seperti biasanya.
sangat hening.
membuka mata kulihat sekeliling.
seperti ada yang mengawasi.
namun tak ada siapapun.

tertegun kulihat jendela kaca.
sepertinya ada yang memperhatikan?
aku berjalan keluar.
kosong.
tak ada siapa-siapa.

selama sepuluh tahun bekerja aku tak pernah merasa seasing ini di ruanganku sendiri.
tiba-tiba saja suasana terasa sangat lengang.
seperti ada sesuatu yang berbeda.

kembali menoleh ke arah jendela membuatku bergidik ketakutan.
ada sesuatu yang tak beres. tapi apa?
seketika aku berlari ke arah komputer mematikan printer, lampu, ac dan semuanya.

di luar lorong senyap seperti tak berpenghuni.
kupercepat langkah menuju bagian check clock karyawan.
heran, biasanya lampu lorong tak pernah dimatikan.

menoleh kebelakang, rasanya memang benar, ada sosok yang mengejar.
matanya seperti terus mengawasi.

lorong.
gelap. tak ada jalan lain. harus kulewati.
jangan berjalan. belari saja. harus lari!


terengah aku berlari hingga lot parkir.
lampu baseman menyala sebagian.
kumasukkan kunci ke lobang dengan tangan gemetar.
ya Tuhan, belum pernah aku setakut ini.
tanpa melihat spion, segera kunyalakan mesin dan terus melesat ke pintu gerbang.

"pulang, bu"
"ya pak, selamat malam"
pak min mengangguk hormat.
disebelahnya, pak mijo terus menatap ke arahku.
tak berkedip.

terimakasih Tuhan, aku pulang. sertaiku di perjalanan.


epilog

mata pak mijo tak berkedip.
siapa itu? tak salahkah penglihatannya?

apa pak min melihatnya juga?
mengapa wajah rekannya itu biasa saja?

bu nisa tampak pucat seperti ketakutan.
sejak kapan ia mulai bisa membonceng orang?
semua orang tau bu nisa tak pernah berani membonceng siapapun.
dengan tubuh semungil itu? tak mungkin.
kakinya saja harus berjinjit memijak tanah.
motor itu terlalu tinggi untuknya.

tapi mengapa ia seperti tak menyadari siapa yang duduk dibelakangnya?

Tuhan, sertai bu nisa. jauhkanlah ia daripada yang jahat..

sebab sosok tertunduk berambut panjang dan berjubah putih yang duduk di belakangnya itu sesungguhnya amat menakutkan..

Tuesday, February 21, 2012

semua baik

saat bertanya,
mengapa Tuhan?
tak pedulikah Kau dengan perasaanku?
kenapa aku?

menangis sepanjang jalan
tak ada yang mendengar
tak juga ada yang menjawab

sedetik kemudian
nyanyian kemuliaan
semua baik
semua baik
yang Tuhan buat, semua baik

mengapa harus aku percaya?

Monday, February 13, 2012

ketika Tuhan bertanya

October 8, 2008

awan

ah, tentu saja ada awan…

suara tanpa raga bertanya,

anakku, ketika aku tidak memberikan sesuatu yang diinginkan oleh hatimu, apakah jawabmu ?

apakah kau berbalik dan meninggalkan aku ?ataukah kau tetap bersimpuh dan senantiasa percaya pada rancanganku ?

apakah jawabmu ?

di sudut langit aku terpaku

ya, tuhanku, ampunkan dosaku, pelanggaranku …..

Posted by leilla

ps:

tulisan ini tadinya dimuat dalam blog lain leilla di wordpress. tapi karena kelamaan nggak dibuka jadi lupa apa passwordnya, hehee.. enjoy yaa..

Friday, February 3, 2012

leilla write a story 2

rintik hujan masih terasa di telapak tangan. kupandang sekeliling south bank park dengan rasa gundah. aku di sini, bu. aku berhasil. mataku nanar menahan air mata yang akan berlinang. aku begitu merindukanmu, ibu.

"sedang apa, kau?"
suara berat itu. tidak, jangan sekarang.
"bukan urusanmu."
"memang bukan, tapi kau bisa sakit hujan-hujanan begini."
sungguh aku sedang tak ingin berbicara dengannya.

"tunggu. dengarkan aku dulu."
"apa?" sial, mengapa air mata ini bisa mengalir begitu saja. aku jadi terlihat begitu bodoh di depan pram.
"kau kenapa?" tanyanya dengan wajah heran. kubalikkan badan sekuat yang kubisa. bila perlu secepat kilat aku akan menghilang dari pandangannya.
"jawab aku, mir, kau sakit?"

--

sepuluh tahun lalu aku mengenal pram lewat mita, seorang teman. tak ada yang istimewa dari dirinya. kecuali kenyataan bahwa ia begitu lembut dan bersahaja. kebanyakan rekan hormat dan segan padanya. bahkan disaat ia membuat satu kesalahan sekalipun. dimata banyak orang, pram begitu sempurna. dimataku juga, saat itu.

terus terang aku pernah begitu mencintainya. dia? aku tak tahu pasti. yang jelas kami sempat berhubungan selama lima tahun. lima tahun yang menyedihkan. orang bilang jika kau mencintai seseorang, jangan kau berikan hatimu sepenuhnya. supaya ketika orang itu menyakitimu, kau tak akan begitu terluka. aku memang pernah terluka. sangat. terlebih ketika pram lebih memilih keluarganya dibanding aku yang dianggap tak sepadan dengannya.

--

"mir, dengar aku dulu!" tangannya menarik kasar lenganku.
percuma saja menghindar, langkah kakinya terlalu lebar.
mataku lurus memandang wajahnya. dulu aku sangat mengagumi dagu itu. mata itu.
"berapa kali kukatakan padamu, jauhi dimas. dia tak cocok untukmu."
"bukan urusanmu. urus saja dirimu sendiri."
"ini urusanku juga!" pram setengah berteriak.
nada bicaranya seolah mengkhawatirkanku. mungkinkah?
"aku mengenal dimas jauh sebelum kau mengenalnya." "aku tahu seperti apa dia. jadi tolong, jauhi dia. atau kalau tidak.."
"apa? kalau tidak, apa? kau mau bilang kalau dia laki-laki brengsek, begitu? dia bajingan, begitu? lantas kau apa? kau ini apa!" entah mengapa kata-kata yang sudah sepuluh tahun tersimpan dalam hatiku itu meluncur begitu saja.
aku benci kamu, pram, sangat benci padamu.

pram terhenyak. genggaman tangannya melunak. bergegas aku meninggalkannya.
"kau benar, aku memang brengsek," teriaknya. "aku memang bajingan yang pernah meninggalkanmu. tapi aku bukan dimas. aku tidak seperti dimas!"

telingaku mendengar, tapi kakiku terus berjalan tanpa tujuan. hanya berjalan saja.

"jauhi dia atau kau akan terluka."
meski tak memandang wajahnya, aku tahu pram bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"dimas tak pernah sepenuhnya mencintaimu, mir. ia takkan pernah bisa mencintai seorang wanita."

mataku benar-benar basah oleh airmata.
mengapa langit selalu tak pernah adil padaku?

--

di jarak kurang lebih dua ratus meter dari situ, sepasang mata memandang dengan perasaan bersalah.

aku mencintaimu, mir.
cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya pada seorang perempuan.
maafkan masa laluku. tak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki hal itu.
tapi sungguh, aku begitu takut kehilanganmu.

dimas terpekur memandang dua sosok yang terluka.
dua sosok yang teramat dicintainya.

--

ps:
juz another my short story
terinspirasi cerita mun jae shik dan yung ha di sunkyunkwan scandal, hehee
enjoy!

leilla write a story 1

hari sudah teramat larut, mus belum lagi pulang. mobilnya pun tak tampak di ujung pertokoan. sum menanti dan terus menanti. riak hatinya terasa tak keruan. benarkah yang dilihatnya tadi? sekelebat bayang mulai muncul kembali. mus.. ya Tuhan, mus kekasih hatinya, belahan jiwanya, sedang apa dia di apartemen lila?

lila.. nama yang tak asing bagi gendang telinganya. dari mus. benar, dari mus ia mendengar nama itu. mus pernah setengah mati mencintainya. sekarang bagaimana? memikirkan hal itu hanya membuat jiwanya semakin hancur. seharusnya dari dulu ia curiga. sejak kedatangan lila sebagai penghuni baru apartemen lantai sepuluh, sikap mus mulai berubah. Sang Widi, seharusnya aku mengingat nama itu. lila, kenapa bisa lupa?

jarum jam mulai bergeser ke angka sebelas..
mus, Gusti, kemana kau, mus? mata sum mulai basah oleh airmata. dipandanginya dina putri tercinta satu-satunya dengan hati terbelah. buah cintaku, mus, cinta kita. don't do this, mus, kumohon.

tepat pukul duabelas..
bunyi gemerincing kunci di pintu depan. mus masuk tak menghiraukan sum yang dengan setia menyongsong dan membawakan tasnya.
"capek, mus."
tak menjawab mus bergegas masuk ke dalam kamar. bukan kebiasaannya.
seperti dayang yang mengantar tuannya menuju peraduan, sum menyiapkan piyama.
"kau tidur saja dulu. ada yang masih akan kukerjakan."
kalimatnya yang panjang seolah tak menghiraukan perasaannya.
sum menunduk tak mampu berkata lagi.
mus tak suka bila ia membantah.

lewat pukul tiga..
mata sum belum lagi dapat terpejam. malam begitu sunyi. pikirannya masih berjalan kesana kemari. segelas susu panas mungkin bisa membantu. sum beranjak keluar. lampu ruang kerja mus masih menyala. sedang apa kau, mus? seberat itukah pekerjaanmu? bagaimana perasaanmu sekarang? lila? masihkah kau mencintainya?

masuk, tidak, masuk, tidak..
"mus, kau mau kub..
"mus! oh tidak! muuus!!"


Epilog

beberapa petugas hilir mudik di ruang kerja mus. mata sum menerawang ke langit-langit. tangisnya tak tertahankan. beberapa kali bahkan ia pingsan. bu ratih tetangga kiri apartemen dengan iba menemaninya.
"yang tabah, sum, tabah, anakku."
tapi sama sekali kata-katanya tak membantu. sum kembali lunglai.
dipapah bu ratih dan seorang kerabat ia dibawa masuk. tubuhnya semakin lemah.

tak ada yang melihat ketika selembar kertas putih itu terjatuh dari tangan sum.
tak ada yang tau.

mus, lupakan aku. dihatiku sudah tak ada lagi dirimu.
jangan paksa aku, mus. semuanya sudah berakhir.

lila


ps :
lagi pengen nulis cerpen. kesenangan yang telah lama kutinggalkan.
enjoy!