saat bertanya,
mengapa Tuhan?
tak pedulikah Kau dengan perasaanku?
kenapa aku?
menangis sepanjang jalan
tak ada yang mendengar
tak juga ada yang menjawab
sedetik kemudian
nyanyian kemuliaan
semua baik
semua baik
yang Tuhan buat, semua baik
mengapa harus aku percaya?
Tuesday, February 21, 2012
Monday, February 13, 2012
ketika Tuhan bertanya
October 8, 2008
awan
ah, tentu saja ada awan…
suara tanpa raga bertanya,
anakku, ketika aku tidak memberikan sesuatu yang diinginkan oleh hatimu, apakah jawabmu ?
apakah kau berbalik dan meninggalkan aku ?ataukah kau tetap bersimpuh dan senantiasa percaya pada rancanganku ?
apakah jawabmu ?
di sudut langit aku terpaku
ya, tuhanku, ampunkan dosaku, pelanggaranku …..
Posted by leilla
ps:
tulisan ini tadinya dimuat dalam blog lain leilla di wordpress. tapi karena kelamaan nggak dibuka jadi lupa apa passwordnya, hehee.. enjoy yaa..
Friday, February 3, 2012
leilla write a story 2
rintik hujan masih terasa di telapak tangan. kupandang sekeliling south bank park dengan rasa gundah. aku di sini, bu. aku berhasil. mataku nanar menahan air mata yang akan berlinang. aku begitu merindukanmu, ibu.
"sedang apa, kau?"
suara berat itu. tidak, jangan sekarang.
"bukan urusanmu."
"memang bukan, tapi kau bisa sakit hujan-hujanan begini."
sungguh aku sedang tak ingin berbicara dengannya.
"tunggu. dengarkan aku dulu."
"apa?" sial, mengapa air mata ini bisa mengalir begitu saja. aku jadi terlihat begitu bodoh di depan pram.
"kau kenapa?" tanyanya dengan wajah heran. kubalikkan badan sekuat yang kubisa. bila perlu secepat kilat aku akan menghilang dari pandangannya.
"jawab aku, mir, kau sakit?"
--
sepuluh tahun lalu aku mengenal pram lewat mita, seorang teman. tak ada yang istimewa dari dirinya. kecuali kenyataan bahwa ia begitu lembut dan bersahaja. kebanyakan rekan hormat dan segan padanya. bahkan disaat ia membuat satu kesalahan sekalipun. dimata banyak orang, pram begitu sempurna. dimataku juga, saat itu.
terus terang aku pernah begitu mencintainya. dia? aku tak tahu pasti. yang jelas kami sempat berhubungan selama lima tahun. lima tahun yang menyedihkan. orang bilang jika kau mencintai seseorang, jangan kau berikan hatimu sepenuhnya. supaya ketika orang itu menyakitimu, kau tak akan begitu terluka. aku memang pernah terluka. sangat. terlebih ketika pram lebih memilih keluarganya dibanding aku yang dianggap tak sepadan dengannya.
--
"mir, dengar aku dulu!" tangannya menarik kasar lenganku.
percuma saja menghindar, langkah kakinya terlalu lebar.
mataku lurus memandang wajahnya. dulu aku sangat mengagumi dagu itu. mata itu.
"berapa kali kukatakan padamu, jauhi dimas. dia tak cocok untukmu."
"bukan urusanmu. urus saja dirimu sendiri."
"ini urusanku juga!" pram setengah berteriak.
nada bicaranya seolah mengkhawatirkanku. mungkinkah?
"aku mengenal dimas jauh sebelum kau mengenalnya." "aku tahu seperti apa dia. jadi tolong, jauhi dia. atau kalau tidak.."
"apa? kalau tidak, apa? kau mau bilang kalau dia laki-laki brengsek, begitu? dia bajingan, begitu? lantas kau apa? kau ini apa!" entah mengapa kata-kata yang sudah sepuluh tahun tersimpan dalam hatiku itu meluncur begitu saja.
aku benci kamu, pram, sangat benci padamu.
pram terhenyak. genggaman tangannya melunak. bergegas aku meninggalkannya.
"kau benar, aku memang brengsek," teriaknya. "aku memang bajingan yang pernah meninggalkanmu. tapi aku bukan dimas. aku tidak seperti dimas!"
telingaku mendengar, tapi kakiku terus berjalan tanpa tujuan. hanya berjalan saja.
"jauhi dia atau kau akan terluka."
meski tak memandang wajahnya, aku tahu pram bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"dimas tak pernah sepenuhnya mencintaimu, mir. ia takkan pernah bisa mencintai seorang wanita."
mataku benar-benar basah oleh airmata.
mengapa langit selalu tak pernah adil padaku?
--
di jarak kurang lebih dua ratus meter dari situ, sepasang mata memandang dengan perasaan bersalah.
aku mencintaimu, mir.
cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya pada seorang perempuan.
maafkan masa laluku. tak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki hal itu.
tapi sungguh, aku begitu takut kehilanganmu.
dimas terpekur memandang dua sosok yang terluka.
dua sosok yang teramat dicintainya.
--
ps:
juz another my short story
terinspirasi cerita mun jae shik dan yung ha di sunkyunkwan scandal, hehee
enjoy!
"sedang apa, kau?"
suara berat itu. tidak, jangan sekarang.
"bukan urusanmu."
"memang bukan, tapi kau bisa sakit hujan-hujanan begini."
sungguh aku sedang tak ingin berbicara dengannya.
"tunggu. dengarkan aku dulu."
"apa?" sial, mengapa air mata ini bisa mengalir begitu saja. aku jadi terlihat begitu bodoh di depan pram.
"kau kenapa?" tanyanya dengan wajah heran. kubalikkan badan sekuat yang kubisa. bila perlu secepat kilat aku akan menghilang dari pandangannya.
"jawab aku, mir, kau sakit?"
--
sepuluh tahun lalu aku mengenal pram lewat mita, seorang teman. tak ada yang istimewa dari dirinya. kecuali kenyataan bahwa ia begitu lembut dan bersahaja. kebanyakan rekan hormat dan segan padanya. bahkan disaat ia membuat satu kesalahan sekalipun. dimata banyak orang, pram begitu sempurna. dimataku juga, saat itu.
terus terang aku pernah begitu mencintainya. dia? aku tak tahu pasti. yang jelas kami sempat berhubungan selama lima tahun. lima tahun yang menyedihkan. orang bilang jika kau mencintai seseorang, jangan kau berikan hatimu sepenuhnya. supaya ketika orang itu menyakitimu, kau tak akan begitu terluka. aku memang pernah terluka. sangat. terlebih ketika pram lebih memilih keluarganya dibanding aku yang dianggap tak sepadan dengannya.
--
"mir, dengar aku dulu!" tangannya menarik kasar lenganku.
percuma saja menghindar, langkah kakinya terlalu lebar.
mataku lurus memandang wajahnya. dulu aku sangat mengagumi dagu itu. mata itu.
"berapa kali kukatakan padamu, jauhi dimas. dia tak cocok untukmu."
"bukan urusanmu. urus saja dirimu sendiri."
"ini urusanku juga!" pram setengah berteriak.
nada bicaranya seolah mengkhawatirkanku. mungkinkah?
"aku mengenal dimas jauh sebelum kau mengenalnya." "aku tahu seperti apa dia. jadi tolong, jauhi dia. atau kalau tidak.."
"apa? kalau tidak, apa? kau mau bilang kalau dia laki-laki brengsek, begitu? dia bajingan, begitu? lantas kau apa? kau ini apa!" entah mengapa kata-kata yang sudah sepuluh tahun tersimpan dalam hatiku itu meluncur begitu saja.
aku benci kamu, pram, sangat benci padamu.
pram terhenyak. genggaman tangannya melunak. bergegas aku meninggalkannya.
"kau benar, aku memang brengsek," teriaknya. "aku memang bajingan yang pernah meninggalkanmu. tapi aku bukan dimas. aku tidak seperti dimas!"
telingaku mendengar, tapi kakiku terus berjalan tanpa tujuan. hanya berjalan saja.
"jauhi dia atau kau akan terluka."
meski tak memandang wajahnya, aku tahu pram bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"dimas tak pernah sepenuhnya mencintaimu, mir. ia takkan pernah bisa mencintai seorang wanita."
mataku benar-benar basah oleh airmata.
mengapa langit selalu tak pernah adil padaku?
--
di jarak kurang lebih dua ratus meter dari situ, sepasang mata memandang dengan perasaan bersalah.
aku mencintaimu, mir.
cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya pada seorang perempuan.
maafkan masa laluku. tak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki hal itu.
tapi sungguh, aku begitu takut kehilanganmu.
dimas terpekur memandang dua sosok yang terluka.
dua sosok yang teramat dicintainya.
--
ps:
juz another my short story
terinspirasi cerita mun jae shik dan yung ha di sunkyunkwan scandal, hehee
enjoy!
leilla write a story 1
hari sudah teramat larut, mus belum lagi pulang. mobilnya pun tak tampak di ujung pertokoan. sum menanti dan terus menanti. riak hatinya terasa tak keruan. benarkah yang dilihatnya tadi? sekelebat bayang mulai muncul kembali. mus.. ya Tuhan, mus kekasih hatinya, belahan jiwanya, sedang apa dia di apartemen lila?
lila.. nama yang tak asing bagi gendang telinganya. dari mus. benar, dari mus ia mendengar nama itu. mus pernah setengah mati mencintainya. sekarang bagaimana? memikirkan hal itu hanya membuat jiwanya semakin hancur. seharusnya dari dulu ia curiga. sejak kedatangan lila sebagai penghuni baru apartemen lantai sepuluh, sikap mus mulai berubah. Sang Widi, seharusnya aku mengingat nama itu. lila, kenapa bisa lupa?
jarum jam mulai bergeser ke angka sebelas..
mus, Gusti, kemana kau, mus? mata sum mulai basah oleh airmata. dipandanginya dina putri tercinta satu-satunya dengan hati terbelah. buah cintaku, mus, cinta kita. don't do this, mus, kumohon.
tepat pukul duabelas..
bunyi gemerincing kunci di pintu depan. mus masuk tak menghiraukan sum yang dengan setia menyongsong dan membawakan tasnya.
"capek, mus."
tak menjawab mus bergegas masuk ke dalam kamar. bukan kebiasaannya.
seperti dayang yang mengantar tuannya menuju peraduan, sum menyiapkan piyama.
"kau tidur saja dulu. ada yang masih akan kukerjakan."
kalimatnya yang panjang seolah tak menghiraukan perasaannya.
sum menunduk tak mampu berkata lagi.
mus tak suka bila ia membantah.
lewat pukul tiga..
mata sum belum lagi dapat terpejam. malam begitu sunyi. pikirannya masih berjalan kesana kemari. segelas susu panas mungkin bisa membantu. sum beranjak keluar. lampu ruang kerja mus masih menyala. sedang apa kau, mus? seberat itukah pekerjaanmu? bagaimana perasaanmu sekarang? lila? masihkah kau mencintainya?
masuk, tidak, masuk, tidak..
"mus, kau mau kub..
"mus! oh tidak! muuus!!"
Epilog
beberapa petugas hilir mudik di ruang kerja mus. mata sum menerawang ke langit-langit. tangisnya tak tertahankan. beberapa kali bahkan ia pingsan. bu ratih tetangga kiri apartemen dengan iba menemaninya.
"yang tabah, sum, tabah, anakku."
tapi sama sekali kata-katanya tak membantu. sum kembali lunglai.
dipapah bu ratih dan seorang kerabat ia dibawa masuk. tubuhnya semakin lemah.
tak ada yang melihat ketika selembar kertas putih itu terjatuh dari tangan sum.
tak ada yang tau.
mus, lupakan aku. dihatiku sudah tak ada lagi dirimu.
jangan paksa aku, mus. semuanya sudah berakhir.
lila
ps :
lagi pengen nulis cerpen. kesenangan yang telah lama kutinggalkan.
enjoy!
lila.. nama yang tak asing bagi gendang telinganya. dari mus. benar, dari mus ia mendengar nama itu. mus pernah setengah mati mencintainya. sekarang bagaimana? memikirkan hal itu hanya membuat jiwanya semakin hancur. seharusnya dari dulu ia curiga. sejak kedatangan lila sebagai penghuni baru apartemen lantai sepuluh, sikap mus mulai berubah. Sang Widi, seharusnya aku mengingat nama itu. lila, kenapa bisa lupa?
jarum jam mulai bergeser ke angka sebelas..
mus, Gusti, kemana kau, mus? mata sum mulai basah oleh airmata. dipandanginya dina putri tercinta satu-satunya dengan hati terbelah. buah cintaku, mus, cinta kita. don't do this, mus, kumohon.
tepat pukul duabelas..
bunyi gemerincing kunci di pintu depan. mus masuk tak menghiraukan sum yang dengan setia menyongsong dan membawakan tasnya.
"capek, mus."
tak menjawab mus bergegas masuk ke dalam kamar. bukan kebiasaannya.
seperti dayang yang mengantar tuannya menuju peraduan, sum menyiapkan piyama.
"kau tidur saja dulu. ada yang masih akan kukerjakan."
kalimatnya yang panjang seolah tak menghiraukan perasaannya.
sum menunduk tak mampu berkata lagi.
mus tak suka bila ia membantah.
lewat pukul tiga..
mata sum belum lagi dapat terpejam. malam begitu sunyi. pikirannya masih berjalan kesana kemari. segelas susu panas mungkin bisa membantu. sum beranjak keluar. lampu ruang kerja mus masih menyala. sedang apa kau, mus? seberat itukah pekerjaanmu? bagaimana perasaanmu sekarang? lila? masihkah kau mencintainya?
masuk, tidak, masuk, tidak..
"mus, kau mau kub..
"mus! oh tidak! muuus!!"
Epilog
beberapa petugas hilir mudik di ruang kerja mus. mata sum menerawang ke langit-langit. tangisnya tak tertahankan. beberapa kali bahkan ia pingsan. bu ratih tetangga kiri apartemen dengan iba menemaninya.
"yang tabah, sum, tabah, anakku."
tapi sama sekali kata-katanya tak membantu. sum kembali lunglai.
dipapah bu ratih dan seorang kerabat ia dibawa masuk. tubuhnya semakin lemah.
tak ada yang melihat ketika selembar kertas putih itu terjatuh dari tangan sum.
tak ada yang tau.
mus, lupakan aku. dihatiku sudah tak ada lagi dirimu.
jangan paksa aku, mus. semuanya sudah berakhir.
lila
ps :
lagi pengen nulis cerpen. kesenangan yang telah lama kutinggalkan.
enjoy!
Subscribe to:
Posts (Atom)