Pages

Saturday, July 7, 2012

destiny

'bahagia itu bukan hanya milik sebagian orang, rein. kau pun layak untuk bahagia.'
reina masih saja gundah. perkataan lisa sama sekali tak didengarkannya.
'aku pulang.'
'langsung pulang, jangan kemana-mana. pikiranmu kacau. jangan sampai kau bertindak bodoh.'
'huh.' reina mendengus. lisa selalu menjadi seorang yang sangat penting dalam hidupnya. sebagai teman, saudara, bahkan ibunya.

langit semakin kelam. cuaca kota melbourne semakin tak bersahabat belakangan ini. reina merapatkan coatnya. sial, pikiran tentang nirwan sama sekali tak bisa hilang dari kepalanya. nirwan brengsek. laki-laki pengecut. bagaimana mungkin ia muncul di tengah situasi seperti ini. 

pletak. kerikil kecil menjadi sasaran kakinya. i need a couple of coffee. reina menyeberang jalan. ada coffe house di sudut fear-street sana.

secangkir kopi dan sepiring cocholate fudge, perfect. 
the day i falling love, my gosh, kenapa harus lagu itu yang didengarnya saat ini. 

'reina.'
nirwan! bagus. nor music and him, dua-duanya sangat menyebalkan untuk dihadapi sekarang.
'aku mencarimu seharian. got my message?' lelaki itu menyeret kursi di depannya. 
sungguh seorang yang tak berperasaan.
reina menggeleng. 'aku di rumah lisa sejak tadi.'
'minggu depan anniversary mas daniel, kau diundang. kita bisa datang bersama kalau kau mau.'
nirwaaaaannn, hentikaaannn!! ingin rasanya reina melempar sendok kopinya ke arah nirwan. 
why don't you just leave me alone..
'aku repot. ajak lisa saja.'

nirwan tak menjawab. jemarinya memanggil waiter untuk memesan menu yang sama. 
geezz, kesukaan kami selalu sama.selalu.
'paper? nanti aku bantu. aku lowong minggu ini.'
'nanti kupikirkan. aku pulang.'
'rein..' nirwan menggenggam telapak tangannya. 'jangan menghindariku terus.' 
demi tuhan reina tak sanggup mendengar nada bicara nirwan yang memelas seperti itu. 
selalu runtuh. pertahanannya. selalu runtuh. 
mengapa waktu tak juga dapat menghapus kebencian dalam hatinya? 

'lepaskan.'
'nggak. duduk. dengarkan dulu.' reina memandang lekat matanya. nirwan tak tersenyum. matanya menahan kepedihan. kepedihan yang sama dengannya.
'please..' 
reina menunduk. kembali terduduk. melepaskan genggaman hangat tangan nirwan yang masih ingin dirasakannya lebih lama.
'maafkan aku, rein. aku salah. kalau saja ada satu hal yang bisa menghapus semua kesalahanku di masa lalu. aku mencintaimu, rein. selalu mencintaimu.'
reina mendengus. membuang wajahnya. airmata mulai membayang di pelupuk matanya. jangan menangis sekarang, tuhan. 

'perkawinanku, tentu saja kami bahagia. setidaknya aku mencoba untuk bahagia. aku tak ingin menyakiti perasaan inggar.'

lalu bagaimana dengan perasaanku? boleh kau sakiti aku kapan saja kau mau? begitu?

'justru karena kami sama-sama mencoba untuk bahagia, tak juga kami dapatkan kenyataannya. inggar meninggalkanku, rein. dan aku tak berusaha keras untuk membuat kami bersatu kembali. kau tau kenapa? karena aku mencintaimu. anggap saja itu kebodohan terbesarku. tapi sungguh aku tak bisa sedetikpun melupakanmu.'
kali ini mata reina benar-benar basah oleh airmata. ia menggeleng.
'bukan aku. kau hanya mencintai dirimu sendiri.' 

reina segera berdiri dan beranjak pergi.
mengapa langit tega mempertemukan kami kembali? tentu saja aku mencintaimu, demi tuhan aku masih mencintaimu.

nirwan terpekur.
reina, cinta yang tak pernah bisa direngkuhnya.
tunggu aku, rein, suatu hari nanti kita pasti akan bahagia.



Saturday, June 30, 2012

offline

lila melempar tasnya begitu saja. lelah bergelayut dipundaknya.
hari yang berat. segelas air sedikit melegakan tenggorokannya.

bib.. laptop menyala.

kemana kau, bim?

akun itu menunjukkan status offline.
tak masalah, bukankah seseorang masih bisa mengirim pesan sekalipun tidak sedang online?

apa kabar, bim?
kenapa tak kau balas pesanku kemarin? minggu lalu?
kau sibuk?
belakangan aku juga sangat sibuk
entah kenapa semua pekerjaan ini hampir membuatku gila

masih ingat mita?
ya, yang selalu kau bilang parasit itu
hari ini ia kembali berulah
geez, how can she be so stupid?
tak pernah mau aku memaafkannya


lila menoleh. ketukan pintu menghentikan jemarinya.

talk to you later, bim
ada tamu.. bye now..

"lila, tadi seseorang mencarimu," bu Wanti pemilik kos tersenyum ramah.
"oya, siapa, bu?"
"ibu juga nggak tau, nggak pernah ke sini rasanya. namanya wisnu. bukan temankah?"
lila menggeleng. "ada pesan, bu?"
"tidak. hanya saja orang itu benar-benar ingin bertemu secara pribadi denganmu. ini nomor handphonenya. dia bilang hubungi kapan saja kau bisa."
lila menerima lembar kertas itu. bukan nomor yang familiar di ingatannya.
"orang itu bilang, kau harus segera menghubunginya. penting. begitu katanya."
lila mengangguk. "terimakasih, bu." dan menutup pintu.

siapa?

lila meletakkan kertas itu diatas meja. satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah berendam dalam genangan air hangat. untuk meredakan gejolak dalam dadanya. meredakan sedikit kegalauan dalam hatinya.

***

jam 11 malam. mata lila tak juga dapat terpejam.
indikator baterai laptopnya sudah mati.
bima..

tanda kekuningan messengernya menyala!
ya tuhan, bima..

belum tidur, bim?

sedetik.. dua detik.. lima detik..
bima tak juga menjawab

bim?
ingin ditekannya tombol buzz. tapi diurungkannya.
jam sebelas malam, bukan langkah bijak bila harus mengejutkan orang.

kemana kau, bim?
belum lagi selesai berpikir, akun bima mendadak offline.
lila tercekat. tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya.

bima?
matanya mulai berkaca. sebentar kemudian benar-benar tumpah airmatanya.
kenangan bertahun lalu muncul kembali di benaknya.

belum pernah sekalipun lila mencintai seseorang sedemikian besarnya.
cinta yang salah.
mencintai orang yang salah.
bima tak pernah tercipta untuknya.

tak penting lagi bagiku mencintai siapa. 
ini masa depanku, lil. ini penting bagiku.
jangan berharap lebih dariku. 
aku tak yakin bisa membahagiakanmu. 
paling tidak kita tetap bisa berteman, bukan?

lila terisak.
kau tak tau betapa hancurnya perasaanku, bim.
berteman? tentu saja kita bisa selalu berteman.
apa saja bisa asalkan membuatmu bahagia.
kebahagiaanku tak penting. asal melihatmu tertawa itu sudah sangat membuatku lega.

***

"kau lila?" seseorang tiba-tiba datang mendekatinya.
lila tertegun melihat sosok di depannya.
"anda siapa?"
"maaf, perkenalkan, saya wisnu."
"saya tidak mengenal anda, maaf." hanya itu. lila beranjak pergi.
"lila, ada yang harus aku sampaikan. ini tentang bima."
langkah lila terhenti. bagaimana mungkin seseorang yang tak dikenalnya tiba-tiba muncul didepannya dan menyebut nama bima.

"bisa kita duduk di sana."
lila menurut. ada sebuah bangku kosong di bawah pohon rindang sana. taman ini bila menjelang senja rasanya seperti sebuah surga kecil.  suasananya tenang. bila sedang kesal, lila suka berdiam diri di bangku itu.

"katakan." lila tak sabar. mengapa ia harus mendengar seseorang yang bahkan tak dikenalnya?
lelaki itu mencoba tersenyum. ada kepedihan di matanya.

"aku dan bima satu kantor, kami juga berbagi apartemen bersama."

apa perlunya cerita ini untukku?

"kami bersahabat dekat. segala sesuatu tentang bima, aku tau semuanya."
"lalu apa hubungannya denganku? jangan berbelit-belit. aku tak punya banyak waktu." lila mendengus kesal.

"bima mencintaimu."
lila terperangah menatapnya.

"akhir-akhir ini bima berkata bahwa ia sangat mencintaimu. tak pernah ditemukannya seorang yang begitu perhatian sepertimu."
"hentikan. omongan sampah apa ini?" mata lila hampir saja basah oleh airmata.
bagaimana mungkin seseorang bisa berkata bahwa bima sedemikian mencintainya? lila bangkit berdiri.

"tunggu. lila. sebentar. aku hanya ingin menyampaikan ini." lelaki itu mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari sakunya.
"bima membeli ini seminggu sebelum ia meninggal. didalamnya sebuah cincin bertuliskan nama kalian. rencananya minggu ini ia akan melamar."
"messenger yang kau lihat online itu, aku yang menyalakannya."

pandangan mata lila mulai samar.
dan semuanya menjadi tidak penting lagi sekarang.



Sunday, June 17, 2012

life isn't that hard

life isn't that hard, leilla
have a courage to face it

yes you can, dear

Friday, June 15, 2012

so, help me lord

ketika tuhan tidak menghindarkan kita dari masalah
ia memberi kita hikmat untuk menghadapinya
amen

Thursday, June 14, 2012

his will be done

tuhan,
bila ini adalah kehendakmu
lakukan

bila ini yang engkau mau
apapun boleh untukmu

hatiku?
tak perlu risaukan
aku selalu kuat
akan selalu kuat
kau ingat itu
*tears*


leilla write:
mengapa menerima jawaban 'tidak" itu begitu menyakitkan?
berdiri tegak, leilla, you can do it..
(yes you can, dear)
it's only about a time

Monday, June 11, 2012

surat kepada tuhan

tuhan,
ketika kau menunjukkan amarahmu
dan aku diam saja
kau tahu akan seperti apa pada akhirnya, bukan

menurut
tidak membantah
meski sakit
selalu kembali padamu

satu kali
dua kali
hingga hari ini
mengapa tak juga padam amarahmu?

bila aku diam
bila aku menangis
jauh di dalam hati
bila aku tak sanggup berkata apapun
itu bukan berarti kau boleh menyakiti aku kapan saja kau mau!!

Monday, June 4, 2012

apakah 'dia' bodoh?

'Tuhan, mengapa dia melakukan kesalahan lebih banyak dari orang lain? apakah dia bodoh? ' tanya seorang malaikat sambil menunjukkan sebuah foto.

ya Tuhan, ITU FOTOKU!!

moral :
God is always willing to forgive, dear
hanya saja, jangan lakukan kesalahan yang sama terus menerus
*itu sangat menyakitkan*